Festival Penajoh Aceh Timur, Panggung Lezat Pangan Lokal dan UMKM
- Home
- Festival Penajoh Aceh Timur, Panggung Lezat Pangan Lokal dan UMKM
Festival Penajoh Aceh Timur, Panggung Lezat Pangan Lokal dan UMKM
Festival Penajoh Aceh Timur, Panggung Lezat Pangan Lokal dan UMKM Aroma penganan tradisional Aceh memenuhi kawasan Idi ketika Festival Penajoh digelar di halaman Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh Timur. Festival yang berlangsung pada 3 hingga 9 Agustus 2026 tersebut membawa makanan lokal keluar dari dapur keluarga dan menempatkannya sebagai sajian utama dalam agenda kuliner, literasi, hingga penguatan pelaku usaha kecil.
Dalam bahasa Aceh, penajoh berarti makanan. Istilah sederhana tersebut dipilih untuk mewakili kekayaan kuliner yang selama ini tumbuh bersama kehidupan masyarakat. Festival menghadirkan penganan dari bahan lokal, produk UMKM, kegiatan literasi budaya, seminar, lokakarya digitalisasi usaha, serta lomba kreasi makanan Aceh.
Kegiatan ini juga membawa tema mengenai dukungan terhadap ketahanan pangan melalui pemanfaatan bahan lokal. Pengunjung tidak hanya menemukan makanan yang sudah dikenal turun temurun, tetapi juga melihat bagaimana bahan tradisional dapat dikembangkan menjadi produk yang mengikuti selera konsumen saat ini tanpa kehilangan identitas asalnya.
Penajoh Menjadi Nama yang Dekat dengan Kehidupan Masyarakat Aceh
Pemilihan nama Festival Penajoh membuat acara tersebut terasa dekat dengan keseharian masyarakat. Ketua TP PKK Aceh Timur Lismawani Iskandar Al Farlaky menjelaskan bahwa penajoh berarti makanan dalam bahasa Indonesia.
Penggunaan istilah daerah sekaligus memberikan identitas yang kuat. Pengunjung tidak hanya datang mencari hidangan, tetapi diperkenalkan kembali pada kosakata yang berkaitan langsung dengan kebiasaan makan masyarakat Aceh.
Festival tersebut digagas untuk membuat penganan lokal memperoleh tempat lebih besar di daerahnya sendiri. Di tengah semakin mudahnya masyarakat menemukan roti, makanan cepat saji, minuman kekinian, dan berbagai produk dari luar daerah, makanan tradisional membutuhkan ruang agar tetap dikenal.
Hal tersebut menjadi semakin penting bagi generasi muda yang mungkin mengenal beberapa kue Aceh hanya ketika menghadiri acara keluarga atau perayaan tertentu.
Melalui festival, makanan tersebut dapat dilihat, dicicipi, dibicarakan, dan dipelajari dalam suasana yang lebih terbuka.
Digelar Selama Sepekan di Idi Aceh Timur
Festival Penajoh berlangsung di Idi, pusat pemerintahan Kabupaten Aceh Timur. Lokasinya berada di halaman Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh Timur sehingga kegiatan kuliner juga bersentuhan langsung dengan aktivitas literasi.
Rangkaian utama digelar pada 3 sampai 9 Agustus 2026. Panitia menghadirkan masyarakat umum, komunitas budaya, mahasiswa, pelajar, serta pelaku UMKM dalam berbagai kegiatan.
Pemilihan halaman perpustakaan memberikan suasana yang berbeda dari festival kuliner yang biasanya ditempatkan di lapangan terbuka atau pusat perbelanjaan.
Pengunjung dapat mengenal makanan sekaligus memperoleh informasi tentang sejarah, bahan, dan cara pengolahannya.
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh Timur Muhammad Mahdi juga melihat kegiatan tersebut sebagai kesempatan untuk membuat masyarakat semakin dekat dengan perpustakaan. Kehadiran kuliner menjadi pintu awal untuk menumbuhkan rasa ingin tahu terhadap pengetahuan lain.
Janeng hingga Keumamah Hadir di Festival
Festival Penajoh menghadirkan berbagai makanan yang menggunakan bahan lokal sebagai unsur utama.
Beberapa produk yang ditampilkan antara lain janeng, bumbu mie Aceh, keumamah atau ungkoet kayee, lempeng sagee, keukarah, kue bhoi, bada reuteuk, serta pisang salee.
Setiap makanan mempunyai karakter yang berbeda.
Keumamah dikenal sebagai olahan ikan yang telah melalui proses pengeringan sehingga mempunyai ketahanan lebih lama. Masyarakat Aceh juga mengenalnya dengan sebutan ungkoet kayee karena teksturnya yang kering menyerupai kayu sebelum kembali dimasak.
Keukarah memiliki bentuk seperti anyaman tipis dengan tekstur renyah. Kue ini sering hadir pada berbagai kegiatan masyarakat Aceh dan mempunyai tampilan yang mudah dikenali.
Kue bhoi juga mempunyai tempat tersendiri. Bentuknya dapat dibuat menggunakan berbagai cetakan dan teksturnya cenderung lembut di bagian dalam.
Pisang salee memperlihatkan cara masyarakat mengolah buah agar dapat disimpan lebih lama sekaligus mempunyai rasa yang khas.
“Menurut penulis, daya tarik Festival Penajoh terletak pada keberanian menempatkan makanan yang selama ini dianggap biasa di rumah sebagai produk yang pantas mendapat panggung besar.”
Lepas dan Bubur Ikut Memperkenalkan Rasa Rumahan
Selain produk yang mudah dikemas sebagai oleh oleh, festival juga menampilkan penganan yang dekat dengan sajian rumah.
Panitia sebelumnya menyebut lepas, bubur, dan berbagai olahan lokal sebagai bagian dari makanan yang dapat ditemukan selama kegiatan.
Makanan semacam ini penting karena kuliner daerah tidak hanya terdiri atas produk yang cocok masuk kotak suvenir.
Sebagian warisan rasa justru hidup melalui makanan yang dinikmati ketika berkumpul bersama keluarga.
Cara memasak, pemilihan bahan, serta takaran bumbu sering diwariskan secara lisan. Satu keluarga bahkan dapat mempunyai cara pengolahan sedikit berbeda dari keluarga lain.
Festival memberikan kesempatan agar pengetahuan tersebut keluar dari ruang domestik dan diperlihatkan kepada masyarakat yang lebih luas.
Bahan Lokal Menjadi Pusat Perhatian
Tema yang diangkat dalam kegiatan ini adalah dukungan terhadap ketahanan pangan menggunakan bahan lokal.
Pemilihan tersebut bukan sekadar slogan karena hampir seluruh rangkaian diarahkan untuk memperlihatkan kemampuan bahan pangan dari Aceh.
Pangan lokal mempunyai keuntungan berupa kedekatan dengan sumber produksi. Pelaku usaha dapat menggunakan hasil pertanian, perikanan, maupun perkebunan dari wilayah sekitarnya.
Ketika bahan dapat diperoleh dari daerah sendiri, nilai ekonomi tidak hanya berhenti pada penjual makanan.
Petani, nelayan, pengolah bahan, pedagang pasar, jasa kemasan, hingga distribusi ikut terlibat dalam rantai usaha.
Festival kemudian menjadi ruang untuk memperlihatkan bahwa bahan sederhana dapat memperoleh nilai jual lebih tinggi setelah diolah dengan baik.
Pisang Salee Diubah Menjadi Dessert Box
Lomba kreasi menjadi salah satu kegiatan yang memperlihatkan pertemuan antara resep lama dan selera baru.
Peserta bernama Amin berhasil meraih juara pertama setelah mengolah pisang sale menjadi Dessert Box London Cake Pisang Sale.
Pilihannya menarik karena pisang sale merupakan produk yang telah lama dikenal, sementara dessert box dekat dengan konsumen muda.
Bahan utamanya tidak dihilangkan. Yang berubah adalah bentuk penyajian, lapisan rasa, dan kemasan.
Pendekatan seperti ini memberi gambaran bahwa mempertahankan makanan lokal tidak selalu berarti seluruh cara penyajiannya harus tetap sama.
Sebuah bahan dapat masuk ke produk baru selama karakter utamanya masih dapat dikenali.
Bagi pelaku usaha, inovasi tersebut juga membuka kemungkinan menjangkau pembeli yang sebelumnya tidak tertarik membeli pisang sale dalam bentuk biasa.
Lomba Kreasi Mendorong Produk Lebih Siap Dijual
Kompetisi dalam Festival Penajoh tidak hanya menilai kemampuan memasak.
Peserta ditantang mengembangkan bahan pangan lokal menjadi produk yang mempunyai nilai jual.
Ini membuat penampilan, porsi, kemasan, serta kemampuan makanan bertahan selama distribusi ikut menjadi perhatian.
Produk UMKM saat ini harus bersaing bukan hanya melalui rasa.
Konsumen sering melihat kemasan terlebih dahulu ketika memilih barang melalui toko daring atau media sosial.
Foto yang menarik dapat membawa pembeli menuju produk, tetapi kualitas rasa tetap menentukan apakah konsumen akan membeli kembali.
Karena itu, kemampuan menggabungkan resep daerah dengan presentasi yang lebih rapi menjadi kebutuhan penting bagi usaha kuliner.
UMKM Mendapat Ruang untuk Bertemu Pembeli
Pameran UMKM menjadi bagian utama Festival Penajoh.
Pelaku usaha memperoleh tempat untuk memperkenalkan produk kepada masyarakat yang mungkin belum pernah menemukan merek mereka sebelumnya.
Pertemuan langsung masih mempunyai nilai besar bagi bisnis makanan.
Calon pembeli dapat melihat produk, bertanya mengenai bahan, mencoba rasa, serta berbicara langsung dengan pembuatnya.
Bagi usaha yang baru berdiri, respons pengunjung dapat menjadi bahan untuk memperbaiki produk.
Pelaku UMKM dapat mengetahui rasa mana yang paling disukai, ukuran kemasan yang dianggap sesuai, hingga harga yang dapat diterima konsumen.
Pemerintah daerah berharap forum semacam ini dapat memperluas penjualan dan menjadikan usaha kuliner sebagai salah satu sumber pendapatan masyarakat Aceh Timur.
Digitalisasi Usaha Masuk dalam Agenda Festival
Festival kuliner tidak berhenti pada penjualan langsung.
Panitia juga menyiapkan workshop digitalisasi usaha untuk pelaku kuliner.
Materinya diarahkan agar produk lokal dapat dipasarkan melalui kanal digital dan marketplace.
Kemampuan tersebut semakin penting karena jarak tidak lagi harus membatasi penjualan makanan.
Produk yang mempunyai ketahanan cukup lama dapat ditawarkan kepada konsumen dari kota lain apabila kemasan dan distribusinya telah dipersiapkan.
Media sosial juga memungkinkan usaha kecil membangun pengenalan merek tanpa membuka cabang fisik.
Namun, penjualan daring membutuhkan disiplin berbeda.
Pelaku usaha harus menampilkan foto yang jelas, memberikan informasi produk, merespons pesanan, menjaga kualitas pengiriman, dan memastikan kemasan tidak rusak selama perjalanan.
Festival Penajoh mencoba memasukkan aspek tersebut sebagai bagian dari pengembangan kuliner daerah.
Seminar Menghubungkan Pangan dengan Kemandirian Daerah
Pelaku usaha juga mengikuti seminar mengenai dukungan terhadap ketahanan pangan nasional melalui penajoh Aceh.
Pembahasan semacam ini memperluas cara melihat makanan.
Pangan lokal bukan hanya persoalan rasa atau kebiasaan keluarga. Keberadaannya juga berkaitan dengan kemampuan daerah memanfaatkan hasil yang tersedia di sekitarnya.
Ketika masyarakat mengenal lebih banyak jenis bahan dan olahan, pilihan konsumsi ikut bertambah.
Ketergantungan terhadap satu jenis bahan dapat dikurangi dengan mengenalkan kembali alternatif yang pernah digunakan masyarakat sebelumnya.
Festival memberikan ruang agar bahan yang mungkin mulai jarang digunakan kembali mendapat perhatian.
Generasi Muda Menjadi Sasaran Penting
Pelajar dan mahasiswa termasuk kelompok yang dilibatkan dalam Festival Penajoh.
Kehadiran mereka mempunyai posisi penting karena keberlanjutan makanan tradisional sangat bergantung pada orang yang akan memasaknya pada tahun tahun berikutnya.
Sebuah resep dapat hilang bukan karena masyarakat tidak menyukainya, tetapi karena semakin sedikit orang yang mengetahui cara membuatnya.
Generasi muda juga mempunyai kebiasaan konsumsi berbeda.
Mereka lebih dekat dengan media sosial, aplikasi pesan antar, dan tren makanan yang berubah cepat.
Alih alih menempatkan perubahan tersebut sebagai lawan kuliner lokal, festival mencoba menjadikannya alat.
Resep tradisional dapat dipromosikan melalui video pendek. Produk lokal dapat dijual melalui marketplace. Kemasan dapat diperbarui agar lebih mudah dibawa tanpa mengubah bahan utama.
Festival Jajanan Indatu Memperkuat Gerakan Kuliner Aceh Timur
Festival Penajoh bukan satu satunya kegiatan kuliner tradisional yang digelar Aceh Timur pada 2026.
Beberapa hari sebelumnya, pemerintah daerah melalui Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga menyelenggarakan Festival Jajanan Indatu di Idi Sport Center pada 30 Juli.
Kegiatan tersebut melibatkan tim PKK dari 24 kecamatan dan menampilkan perlombaan pengolahan kuliner tradisional seperti teut bulukat dan ie halia.
Dua kegiatan yang berlangsung berdekatan memperlihatkan perhatian besar terhadap pelestarian makanan daerah.
Festival Jajanan Indatu banyak menekankan teknik serta sajian warisan keluarga, sedangkan Festival Penajoh menambahkan pameran usaha, literasi, inovasi produk, dan digitalisasi.
Keduanya mempunyai tujuan yang beririsan, yaitu memastikan pengetahuan memasak tidak berhenti pada generasi tertentu.
Kuliner Bisa Menjadi Alasan Wisatawan Datang ke Aceh Timur
Aceh Timur mempunyai kekayaan alam dan budaya yang dapat dikembangkan bersama wisata kuliner.
Festival Penajoh dirancang bukan hanya untuk masyarakat lokal. Penyelenggara juga berharap kegiatan tersebut dapat menarik wisatawan.
Kuliner mempunyai keunggulan karena dapat dinikmati tanpa memerlukan pengetahuan khusus.
Wisatawan mungkin belum memahami seluruh tradisi Aceh, tetapi mereka dapat memulai pengenalan melalui satu piring makanan.
Dari sebuah kue, percakapan dapat berkembang menuju bahan yang digunakan, alasan bentuknya dibuat tertentu, acara ketika makanan biasa disajikan, hingga cerita keluarga yang mempertahankan resepnya.
Kegiatan kuliner akhirnya dapat menjadi pintu untuk mengenal daerah secara lebih luas.
Kemasan Menentukan Kemampuan Produk Menembus Pasar Lebih Luas
Salah satu perhatian dalam pengembangan UMKM adalah kemasan.
Makanan lokal yang lezat belum tentu mudah dijual ke luar daerah jika kemasannya tidak mampu menjaga kualitas.
Produk kering seperti keukarah, pisang sale, dan berbagai kue tradisional memiliki peluang besar untuk dikembangkan karena relatif lebih mudah dibawa.
Namun, pelaku usaha tetap perlu memikirkan perlindungan terhadap udara, kelembapan, tekanan, serta perjalanan panjang.
Label produk juga perlu memberikan informasi yang jelas.
Nama makanan, komposisi, berat, informasi produsen, serta masa simpan membantu konsumen memahami barang yang dibeli.
Kemasan yang baik juga memberi kesempatan kepada makanan tradisional tampil sejajar dengan produk komersial lain di rak toko.
“Bagi penulis, keberhasilan pangan lokal tidak cukup diukur dari ramainya festival. Ujian sebenarnya muncul ketika produk masih dicari konsumen beberapa minggu setelah stan pameran dibongkar.”
Perpustakaan Menjadi Tempat Menyimpan Pengetahuan Kuliner
Penempatan Festival Penajoh di lingkungan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh Timur mempunyai hubungan menarik dengan agenda dokumentasi.
Panitia merencanakan penyusunan buku serta dokumentasi mengenai sejarah, resep, dan perkembangan kuliner Aceh dari waktu ke waktu.
Upaya seperti ini penting karena banyak resep tradisional tidak mempunyai catatan tertulis yang lengkap.
Takaran sering hanya disebut secukupnya. Waktu memasak dikenal berdasarkan pengalaman. Kualitas adonan dinilai menggunakan sentuhan.
Pengetahuan tersebut bekerja dengan baik selama terus diwariskan langsung.
Masalah muncul ketika generasi berikutnya tidak lagi tinggal dekat dengan orang yang biasa memasaknya.
Dokumentasi dapat menjadi penghubung.
Resep yang ditulis memungkinkan pelajar, peneliti, keluarga, maupun pelaku usaha kembali mempelajari sebuah makanan meskipun pembuat generasi sebelumnya sudah tidak aktif.
Dengan demikian, Festival Penajoh meninggalkan sesuatu yang lebih panjang daripada kegiatan selama sepekan. Catatan sejarah, resep, inovasi, serta perjalanan makanan lokal Aceh dapat tersimpan dan kembali digunakan ketika generasi berikutnya ingin mengenal apa yang dahulu tersaji di meja keluarga Aceh Timur.
- Share









