7 Rumah Makan Padang Enak di Jakarta yang Belum Banyak Orang Tahu
- Home
- 7 Rumah Makan Padang Enak di Jakarta yang Belum Banyak Orang Tahu
7 Rumah Makan Padang Enak di Jakarta yang Belum Banyak Orang Tahu
7 Rumah Makan Padang Enak di Jakarta yang Belum Banyak Orang Tahu Jakarta tidak pernah kekurangan rumah makan Padang. Dari jaringan besar yang sudah punya banyak cabang sampai warung kecil di sudut pasar, sajian Minang selalu punya tempat di tengah selera warga kota. Namun di balik nama besar yang sering muncul di pusat belanja dan jalan utama, ada sejumlah rumah makan Padang yang rasanya kuat, lauknya khas, dan punya pelanggan setia, tetapi belum selalu masuk daftar utama pencinta kuliner.
Rumah Makan Padang Selalu Punya Tempat di Jakarta
Masakan Padang menjadi salah satu pilihan makan paling mudah ditemukan di Jakarta karena cocok dengan banyak selera. Bumbunya tebal, lauknya beragam, porsinya mengenyangkan, dan cara penyajiannya cepat. Dalam satu meja, pengunjung bisa bertemu rendang, ayam pop, gulai tunjang, dendeng balado, telur dadar, daun singkong, sambal hijau, sampai kuah gulai yang membuat nasi terasa lebih lengkap.
Sistem makan di rumah makan Padang juga punya ciri sendiri. Eastside Asia menjelaskan bahwa dalam cara hidang, pelayan membawa banyak piring lauk ke meja, pengunjung memilih lauk yang dimakan, lalu membayar hanya untuk hidangan yang disentuh. Cara ini membuat pengalaman makan terasa ramai dan memberi keleluasaan kepada pengunjung untuk memilih lauk sesuai selera.
1. RM Rinai Pambasuah Luko, Pasar Rumput
RM Rinai Pambasuah Luko menjadi salah satu tempat yang menarik karena tidak bermain di menu yang terlalu umum. Lokasinya berada di Pasar Rumput, Jalan Sultan Agung, lantai 3 Tower 2, kawasan Setiabudi. Nama rumah makan ini berarti hujan pembasuh luka, nama yang terdengar puitis untuk sebuah tempat makan sederhana di tengah kawasan pasar.
Rumah makan ini berdiri sejak 1996 dan dirintis oleh pasangan dari Koto Singkarak, Kota Solok. Nibble mencatat bahwa masakan yang diusung lebih dekat dengan kuliner khas Solok, bukan sekadar gaya Bukittinggi atau Pariaman. Menu andalannya antara lain dendeng batokok, dendeng basah, gulai gajeboh, sandung lamur, puak leak, dan ikan mas cabai.
Keunikan lain dari tempat ini adalah keputusan untuk tidak menjual rendang. Liputan6 menulis bahwa RM Rinai Pambasuah Luko sengaja menolak menjual rendang karena hidangan itu dinilai sudah terlalu umum, lalu memilih menonjolkan menu khas lain yang jarang ditemukan di rumah makan Padang biasa.
2. RM Dibao Untuang, Kebon Kacang
Bagi pencinta kuah asam pedas dan tunjang, RM Dibao Untuang layak masuk daftar. Rumah makan ini berada di kawasan Kebon Kacang, Jakarta Pusat, tepatnya di Jalan Kebon Kacang XI Nomor 18. Lokasinya tidak jauh dari kawasan Tanah Abang, tetapi namanya tidak selalu muncul ketika orang membicarakan rumah makan Padang terkenal di Jakarta.
RM Dibao Untuang memulai perjalanan sejak 1975. Menurut Liputan6, awalnya tempat ini berjualan di pinggir jalan dekat Pasar Tanah Abang. Perjalanan panjang itu membuatnya punya karakter kuat sebagai rumah makan Minang yang tumbuh bersama keramaian pusat kota.
Menu yang sering disebut adalah asam padeh tunjang dan sop daging. Tunjang di sini dikenal berukuran besar, dengan tekstur empuk kenyal dan kuah yang memberi rasa segar pedas. Untuk pengunjung yang bosan dengan lauk kering, hidangan berkuah seperti ini memberi pengalaman berbeda karena rasa asam, pedas, dan gurih hadir lebih jelas.
3. Bopet Mini, Bendungan Hilir
Bopet Mini di Bendungan Hilir sudah lama dikenal oleh pelanggan setia, tetapi bagi banyak orang luar kawasan Benhil, tempat ini masih terasa seperti temuan menarik. Rumah makan ini berdiri sejak 1982 dan dirintis oleh orang asli Batu Sangkar, Sumatera Barat. Lokasinya membuat Bopet Mini menjadi pilihan makan siang bagi pekerja dan warga sekitar.
Keistimewaan Bopet Mini bukan hanya pada lauk berat. Liputan6 mencatat tempat ini menonjolkan menu yang jarang ditemukan, seperti gulai rebung. Rendangnya juga punya sentuhan berbeda karena memakai kacang merah, sehingga memberi tekstur unik pada hidangan yang biasanya tampil lebih pekat dan lurus pada rasa daging berbumbu.
Bopet Mini juga dikenal sebagai tempat mencari makanan ringan khas Sumatera Barat. Ada lupis, serabi, dan bubur kampiun yang membuat pengalaman makan tidak berhenti pada nasi dan lauk. Bagi pengunjung yang ingin mengenal sisi lain kuliner Minang, tempat ini menarik karena menghadirkan rasa rumah, bukan hanya etalase lauk yang umum dilihat di restoran besar.
4. RM Sepakat, Pasar Mayestik dan Melawai
RM Sepakat punya reputasi kuat di kalangan pencinta masakan Minang lama. Rumah makan ini berdiri sejak 1967 dan memiliki cabang di Pasar Mayestik serta Melawai. Meski namanya cukup dikenal di kelompok tertentu, tempat ini belum selalu menjadi pilihan pertama generasi muda yang lebih sering mengejar restoran besar atau tempat viral.
Menu yang membuat RM Sepakat menonjol adalah gulai gajebo. Liputan6 menyebut gulai gajebo sebagai sandung lamur kuah asam padeh yang sulit ditemukan di banyak restoran Padang lain. Potongan daging yang lembut bertemu kuah asam segar dan rasa gurih yang kuat, membuat hidangan ini punya penggemar khusus.
Selain gulai gajebo, RM Sepakat juga memiliki ayam pop, dendeng batokok, dan sambal lado merah. Tempat ini cocok bagi pengunjung yang ingin mencoba lauk Padang yang tidak terlalu umum, tetapi tetap berada di lingkungan rumah makan yang sudah matang dari sisi rasa dan cara penyajian.
5. RM Padang SiMay, Pasar Tanah Abang
RM Padang SiMay menjadi pilihan menarik bagi pemburu kuliner di kawasan Tanah Abang. Pusatnya berada di Pasar Tanah Abang Blok F, dekat parkiran motor di lantai 4. Lokasi seperti ini membuatnya terasa lebih tersembunyi dibanding restoran yang berdiri di jalan besar, tetapi justru memberi daya tarik tersendiri bagi orang yang senang mencari tempat makan di dalam pasar.
Nibble mencatat RM Padang SiMay memiliki cabang di Palmerah Barat dan Palmerah Utara, sementara pusatnya berada di Pasar Tanah Abang Blok F. Cita rasa masakannya dominan bergaya Pariaman, dengan bumbu rempah lebih tebal dan pedas. Salah satu menu terkenalnya adalah rendang turun temurun dengan resep bumbu asli.
Bagi pelanggan pasar, tempat seperti ini biasanya dicari karena rasanya kuat dan porsinya terasa pas untuk makan siang setelah berkeliling. Selain makan di tempat, RM Padang SiMay juga disebut menerima pesanan, bahkan untuk bumbunya saja. Ini menunjukkan bahwa bumbu mereka punya pelanggan tersendiri.
6. Padang Salero Roxy, Cideng
Padang Salero Roxy berbeda dari restoran besar. Tempat ini lebih dekat dengan gaya kedai tenda, tetapi namanya sudah lama hidup di daerah Roxy. Jika melintas sore sampai malam, pengunjung dapat menemukan kedai makanan Padang yang ramai dan dikenal oleh warga sekitar.
Nibble mencatat Padang Salero Roxy sudah beroperasi sejak 1975. Meski berbentuk tendaan, rasa dan bumbunya disebut tetap kuat. Salah satu menu yang sering disorot adalah rendang dengan bumbu hitam dan daging lembut. Pilihan lain meliputi gulai ayam, ayam rendang, rendang jengkol, balado, dendeng, dan aneka gulai.
Tempat ini cocok untuk pengunjung yang menyukai suasana makan lebih membumi. Tidak ada kemewahan ruang makan, tetapi ada rasa yang membuat orang kembali. Padang Salero Roxy juga menjadi contoh bahwa rumah makan Padang enak di Jakarta tidak selalu harus berada di restoran luas dan berpendingin ruangan.
7. RM Pondok Djaja, Gambir
RM Pondok Djaja berada di kawasan Gambir, Jakarta Pusat, tepatnya di Jalan KH Hasyim Ashari. Tempat ini termasuk salah satu rumah makan Padang tua di Jakarta, tetapi tampilannya tetap sederhana. Bagi orang yang belum pernah datang, rumah makan ini mungkin terlihat biasa saja dari luar. Namun, reputasinya sudah lama dibangun lewat rasa.
Liputan6 mencatat RM Pondok Djaja berdiri sejak 1969 dan dikenal karena konsistensi cita rasa, dengan juru masak yang disebut tidak pernah berganti selama puluhan tahun. Menu andalan yang wajib dicoba adalah ayam goreng kering yang gurih renyah serta rendang berbumbu pekat.
Eastside Asia juga menyebut Pondok Djaja sebagai salah satu rumah makan Padang tertua di Jakarta. Ayam goreng kampungnya digambarkan renyah di luar tetapi tetap lembut dan berair di dalam. Hidangan lain yang menarik adalah tahu tauco, perpaduan rasa Minang dan Tionghoa yang membuat tempat ini punya ciri berbeda.
Kenapa Tempat Kecil Sering Lebih Berkesan
Rumah makan Padang yang belum terlalu ramai dibicarakan sering punya daya tarik pada satu atau dua lauk tertentu. Ada yang kuat di dendeng, ada yang menonjol di gulai rebung, ada yang dikenal karena asam padeh tunjang, dan ada pula yang membuat ayam goreng sederhana terasa sangat khas. Inilah yang membuat pencarian rumah makan Padang di Jakarta tidak pernah selesai.
Liputan6 juga menulis bahwa Jakarta menyimpan banyak tempat makan Padang yang belum sepopuler nama besar, tetapi punya resep asli, bumbu pekat, dan pengalaman makan yang patut dicoba. Tempat seperti ini menarik bagi pencinta kuliner Minang karena menawarkan rasa yang lebih personal.
Tips Memilih Lauk Saat Datang Pertama Kali
Saat pertama datang ke rumah makan Padang yang belum dikenal, cara terbaik adalah mencoba menu yang menjadi ciri tempat tersebut. Jangan selalu langsung memilih rendang. Di RM Rinai Pambasuah Luko, dendeng batokok dan gulai gajeboh lebih tepat dicari. Di RM Dibao Untuang, asam padeh tunjang layak menjadi pesanan utama. Di Bopet Mini, gulai rebung dan kudapan Minang patut dicicipi.
Untuk tempat seperti RM Pondok Djaja, ayam goreng kering menjadi pintu masuk yang kuat. Di RM Sepakat, gulai gajebo memberi pengalaman yang jarang ditemukan di banyak rumah makan lain. Di Padang Salero Roxy, rendang hitam dan lauk tenda malam hari menjadi daya tarik yang membuatnya berbeda.
Perhatikan Jam Ramai dan Stok Lauk
Rumah makan Padang kecil biasanya memiliki jam terbaik. Datang terlalu siang dapat membuat beberapa lauk favorit habis. Datang terlalu malam juga bisa membuat pilihan berkurang, kecuali tempat seperti Padang Salero Roxy yang memang hidup pada sore hingga malam. Untuk tempat di kawasan pasar, makan siang sering menjadi waktu paling sibuk.
Jika ingin mendapat pilihan lauk lengkap, datang sebelum jam makan siang utama. Sekitar pukul 11.00 bisa menjadi waktu yang aman untuk banyak tempat. Pada jam tersebut, lauk biasanya masih lengkap, nasi masih hangat, dan pengunjung belum terlalu padat. Ini terutama penting jika ingin mencoba hidangan yang tidak selalu dimasak dalam jumlah besar.
Sajian Minang di Jakarta Punya Banyak Wajah
Tujuh tempat ini memperlihatkan bahwa masakan Padang di Jakarta punya banyak wajah. Ada yang lahir dari pasar, ada yang tumbuh di kawasan perkantoran, ada yang bertahan sebagai kedai tenda, dan ada pula yang menjaga resep keluarga puluhan tahun. Mereka tidak selalu besar, tetapi punya alasan kuat untuk dikunjungi.
Rumah makan Padang besar tentu tetap punya tempat. Namun, mencari tempat yang lebih tersembunyi memberi pengalaman berbeda. Pengunjung bisa menemukan lauk khas Solok, rasa Pariaman yang lebih pedas, gulai yang jarang dijual, sampai kudapan Minang yang mengingatkan pada dapur kampung halaman. Di tengah luasnya Jakarta, tujuh rumah makan ini menjadi bukti bahwa rasa enak sering bersembunyi di lantai pasar, gang kecil, dan kedai sederhana yang tidak banyak bicara.
- Share









