10 Kuliner Vegan Indonesia Pilihan TasteAtlas yang Menggoda Selera
- Home
- 10 Kuliner Vegan Indonesia Pilihan TasteAtlas yang Menggoda Selera
10 Kuliner Vegan Indonesia Pilihan TasteAtlas yang Menggoda Selera
10 Kuliner Vegan Indonesia Pilihan TasteAtlas yang Menggoda Selera Kuliner berbasis tumbuhan sebenarnya bukan sesuatu yang baru dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Jauh sebelum pola makan vegan berkembang sebagai tren global, beragam daerah di Nusantara telah mengolah kedelai, tahu, sayuran, singkong, nangka muda, rempah, serta santan menjadi hidangan sehari hari yang kaya rasa. Bahan sederhana tersebut dipadukan dengan teknik menggoreng, merebus, mengukus, menumis, dan memasak perlahan bersama bumbu.
Kekayaan itu mendapat perhatian dari TasteAtlas, platform yang mendokumentasikan makanan tradisional dari berbagai negara. Dalam daftar yang diperbarui pada 15 Juli 2026, TasteAtlas mencatat 11 kuliner vegan Indonesia. Sebanyak 293 penilaian masuk dalam penyusunan daftar, dengan 217 penilaian dinyatakan sah oleh sistem. Sepuluh posisi teratas ditempati tempe goreng, ketoprak, tempe orek, sayur asem, tempe kering, singkong goreng, tempe bacem, terong balado, rendang nangka, dan pepes tahu.
TasteAtlas menjelaskan bahwa peringkat tersebut disusun berdasarkan penilaian audiens. Sistemnya berusaha mengenali pengguna asli, menyaring aktivitas tidak wajar, serta memberi bobot tambahan terhadap penilai yang dianggap memiliki pengetahuan mengenai kuliner. Peringkat itu tidak dimaksudkan sebagai keputusan mutlak mengenai hidangan terbaik, melainkan sebagai sarana mengenalkan makanan lokal kepada masyarakat yang lebih luas.
Hidangan Berbasis Tumbuhan yang Telah Lama Akrab di Meja Makan
Sebagian besar makanan dalam daftar TasteAtlas bukan hidangan yang diciptakan khusus untuk memenuhi tren vegan. Makanan tersebut telah lama hadir di rumah, warung, pasar tradisional, gerobak kaki lima, hingga rumah makan daerah. Masyarakat mengenalnya sebagai lauk, camilan, sayur pendamping nasi, atau bagian dari sajian lengkap.
Meski bahan utamanya berasal dari tumbuhan, konsumen tetap perlu menanyakan komposisi kepada penjual. Beberapa variasi dapat menggunakan telur, terasi, kaldu hewani, kerupuk yang mengandung udang, atau lauk tambahan. Hidangan dapat disebut vegan apabila seluruh bahan, bumbu, pelengkap, dan proses memasaknya tidak menggunakan unsur hewani.
Menurut penulis, kekuatan kuliner vegan Indonesia terletak pada bumbu dan teknik pengolahan. Cita rasanya tidak bergantung pada bahan hewani karena rempah, fermentasi, santan, gula aren, asam jawa, dan cabai sudah mampu membentuk rasa yang berlapis.
1. Tempe Goreng Menempati Posisi Pertama
Tempe goreng berada di urutan pertama dengan nilai 4,1. Makanan ini dibuat dari tempe yang diiris, dibumbui, kemudian digoreng hingga permukaannya berwarna keemasan. TasteAtlas menggambarkannya sebagai sajian dengan bagian luar renyah, bagian dalam padat, serta rasa gurih yang berasal dari kedelai fermentasi dan bumbu rendaman.
Bumbu tempe goreng biasanya terdiri atas bawang putih, ketumbar, garam, dan kunyit. Pada sejumlah daerah, irisan tempe direndam dalam air berbumbu agar rasa meresap sampai ke bagian tengah. Daun jeruk juga dapat ditambahkan untuk menghasilkan aroma segar ketika tempe masuk ke minyak panas.
Kesederhanaan menjadi salah satu alasan tempe goreng mudah diterima. Sajian ini dapat dimakan bersama nasi putih, sambal, sayur bening, sayur asem, atau lalapan. Tempe goreng juga sering menjadi isi nasi campur dan nasi uduk. Untuk menjaga komposisinya tetap vegan, konsumen perlu memastikan bumbu rendaman dan sambal tidak menggunakan terasi.
Popularitas tempe goreng memperlihatkan kedudukan penting tempe dalam masakan Indonesia. Fermentasi kedelai menghasilkan rasa gurih alami dan tekstur yang lebih kokoh dibandingkan tahu. Ketika digoreng dengan suhu yang tepat, bagian tepinya menjadi garing tanpa membuat bagian tengah kehilangan kelembutan.
2. Ketoprak dengan Saus Kacang yang Kental
Ketoprak berada di posisi kedua dengan nilai 4,1. Hidangan yang lekat dengan Jakarta ini memadukan tahu goreng, lontong, bihun, tauge, kol, dan mentimun. Seluruh bahan kemudian disiram saus kacang yang dicampur kecap manis serta dilengkapi bawang goreng.
Daya tarik ketoprak terletak pada pertemuan berbagai tekstur dalam satu piring. Lontong terasa lembut dan padat, tahu memiliki lapisan luar yang sedikit renyah, bihun memberi tekstur ringan, sedangkan tauge dan mentimun menghadirkan kesegaran. Saus kacang menjadi pengikat seluruh unsur tersebut.
Penjual ketoprak biasanya menghaluskan bawang putih, cabai, garam, dan kacang langsung di atas piring atau cobek. Air dan kecap manis ditambahkan secara bertahap hingga saus mencapai kekentalan yang diinginkan. Tingkat kepedasan pun dapat disesuaikan dengan permintaan pembeli.
TasteAtlas mengingatkan bahwa ketoprak pada dasarnya kerap disajikan sebagai makanan vegan, tetapi beberapa penjual menambahkan telur rebus. Kerupuk yang menjadi pelengkap juga perlu diperiksa karena tidak seluruh jenis kerupuk dibuat hanya dari bahan tumbuhan. Memesan ketoprak tanpa telur dan tanpa kerupuk udang menjadi pilihan yang lebih aman bagi pelaku pola makan vegan.
3. Tempe Orek dengan Perpaduan Manis dan Gurih
Urutan ketiga ditempati tempe orek dengan nilai 3,8. Sajian ini menggunakan tempe yang dipotong berbentuk korek api atau dadu kecil, lalu digoreng sebelum ditumis bersama kecap manis, bawang, cabai, daun salam, dan lengkuas.
Tempe orek memiliki dua bentuk yang umum dijumpai. Versi kering dimasak sampai bumbu melekat rapat dan kadar airnya berkurang. Hasilnya lebih renyah serta dapat disimpan lebih lama. Versi basah menggunakan kecap dan cairan lebih banyak sehingga teksturnya lembut, mengilap, dan cocok disantap bersama nasi hangat.
Kecap manis memberi warna cokelat gelap sekaligus rasa karamel. Cabai menahan rasa manis agar tidak berlebihan, sedangkan lengkuas dan daun salam memberikan aroma khas masakan rumahan Jawa. Beberapa resep menambahkan asam jawa untuk menciptakan rasa segar yang tipis.
Tempe orek banyak dijumpai dalam nasi rames, nasi campur, hidangan kantin, dan bekal perjalanan. Potongannya yang kecil membuat bumbu menyelimuti permukaan tempe secara merata. Bagi konsumen vegan, lauk ini relatif mudah dipilih selama proses memasaknya tidak menggunakan kaldu hewani.
4. Sayur Asem yang Segar dan Kaya Isian
Sayur asem menempati posisi keempat dengan nilai 3,6. TasteAtlas menyebut hidangan ini sebagai sup sayuran bercita rasa asam dan sedikit manis yang berasal dari tradisi masyarakat Sunda di Jawa Barat. Asam jawa menjadi unsur utama yang membentuk rasa kuahnya.
Isi sayur asem dapat berbeda sesuai daerah dan ketersediaan bahan. Jagung, kacang panjang, labu siam, melinjo, daun melinjo, nangka muda, serta kacang tanah merupakan bahan yang kerap digunakan. Kuahnya terlihat ringan, tetapi memiliki rasa yang kuat dari bawang, cabai, lengkuas, daun salam, gula, dan asam jawa.
Rasa asam membantu menyeimbangkan lauk goreng dan sambal yang biasanya disajikan bersamanya. Sayur asem kerap hadir bersama nasi, tempe goreng, tahu, ikan asin, dan lalapan. Untuk sajian vegan, ikan serta sambal berbahan terasi tentu harus dikeluarkan dari susunan hidangan.
Resep sayur asem di sejumlah tempat dapat menggunakan terasi sebagai bagian dari bumbu. Ada pula warung yang menambahkan kaldu tertentu untuk memperkuat rasa. Karena itu, pelanggan yang menjalankan pola makan vegan sebaiknya memastikan kuah hanya dibuat dengan rempah dan bahan tumbuhan.
5. Tempe Kering yang Renyah dan Tahan Disimpan
Tempe kering berada pada urutan kelima dengan nilai 3,5. Hidangan dari Jawa ini dibuat dengan mengiris tempe tipis, menggorengnya sampai kering, kemudian melapisinya memakai campuran gula aren, asam jawa, bawang putih, lengkuas, dan cabai rawit.
Proses memasak tempe kering membutuhkan ketelitian. Tempe harus digoreng sampai kadar airnya berkurang agar tetap garing setelah terkena bumbu. Larutan gula juga perlu dimasak hingga mengental sebelum tempe dimasukkan. Apabila bumbu masih terlalu cair, hasil akhirnya mudah melempem.
Kacang tanah sering ditambahkan untuk memperkaya tekstur. Ada pula variasi yang menggunakan irisan kentang, teri, atau bahan lain. Versi dengan teri tentu tidak termasuk vegan, sehingga komposisinya perlu diperhatikan sebelum membeli.
Tempe kering cocok menjadi lauk nasi, taburan bubur, isi bekal, atau camilan gurih. Rasanya memadukan manis, asin, asam, dan pedas. Ketahanannya membuat sajian ini kerap dimasak dalam jumlah besar menjelang perjalanan, pertemuan keluarga, atau kegiatan yang membutuhkan makanan siap santap.
6. Singkong Goreng dengan Bagian Dalam yang Empuk
Posisi keenam ditempati singkong goreng dengan nilai 3,5. Camilan ini dibuat dari singkong yang dikupas, dipotong, direbus atau dikukus, kemudian digoreng sampai bagian luarnya renyah. TasteAtlas mencatat singkong goreng telah lama dikenal di berbagai wilayah Indonesia sebagai makanan ringan dan pendamping kopi atau teh.
Pemilihan singkong sangat menentukan hasil akhirnya. Singkong yang baik akan berubah empuk setelah direbus dan mudah merekah ketika digoreng. Bawang putih, ketumbar, dan garam dapat dimasukkan ke dalam air rebusan atau larutan perendam agar rasa gurih meresap.
Sebagian penjual menawarkan singkong goreng merekah dengan bagian luar garing dan bagian tengah bertekstur lembut. Tekniknya dapat melibatkan proses perebusan, pendinginan, perendaman air berbumbu, lalu penggorengan dalam minyak panas. Perbedaan suhu membantu membentuk retakan pada permukaan singkong.
Variasi modern sering menambahkan keju, susu kental manis, atau bubuk perasa. Tambahan susu dan keju membuatnya tidak lagi vegan. Versi paling sederhana dengan bawang putih, garam, dan sambal berbahan tumbuhan justru lebih dekat dengan bentuk tradisionalnya.
7. Tempe Bacem dengan Bumbu yang Meresap
Tempe bacem menempati urutan ketujuh dengan nilai 3,2. Hidangan khas Jawa Tengah, terutama Yogyakarta dan Surakarta, ini dimasak menggunakan gula aren, air kelapa, bawang, ketumbar, daun salam, lengkuas, serta asam jawa. Setelah bumbu meresap, tempe biasanya digoreng sebentar.
Teknik bacem mengandalkan pemasakan perlahan. Tempe direbus bersama bumbu hingga cairannya menyusut dan warnanya berubah cokelat. Air kelapa membantu menghasilkan rasa gurih sekaligus memberi aroma yang lembut. Gula aren membentuk lapisan karamel ketika tempe digoreng.
Rasa manis pada tempe bacem cukup menonjol, sesuai karakter sejumlah masakan Jawa Tengah. Meski demikian, rasa tersebut tetap disertai unsur asin, asam, dan aroma rempah. Tempe bacem biasanya disajikan bersama nasi gudeg, sayur lodeh, sambal, atau nasi hangat.
Tempe bacem dapat menjadi pilihan lauk vegan selama cairan perebus dan bumbunya tidak dicampur bahan hewani. Konsumen juga perlu memperhatikan minyak penggorengan apabila warung menggunakan satu penggorengan untuk berbagai jenis lauk.
8. Terong Balado yang Pedas dan Lembut
Terong balado menduduki posisi kedelapan dengan nilai 3,0. Hidangan dari Sumatra Barat ini menggunakan terong yang digoreng atau ditumis, kemudian dilapisi sambal merah berbahan cabai, bawang merah, bawang putih, dan tomat.
Terong memiliki kemampuan menyerap minyak dan bumbu dengan kuat. Setelah digoreng, bagian dalamnya menjadi lembut, sedangkan permukaannya siap menyerap sambal balado. Tomat memberikan rasa sedikit asam dan manis yang membantu menyeimbangkan kepedasan cabai.
Di rumah makan Padang, terong balado biasanya ditempatkan bersama aneka lauk lainnya. Konsumen vegan perlu menanyakan apakah sambal dimasak menggunakan bahan tambahan seperti terasi atau kaldu. Pemakaian minyak bersama lauk hewani juga dapat menjadi pertimbangan bagi mereka yang menerapkan aturan ketat.
Menurut penulis, terong balado membuktikan bahwa satu jenis sayuran dapat menjadi lauk utama yang kuat. Kelembutan terong dan ketajaman sambal menghasilkan sajian sederhana yang tetap memiliki karakter jelas.
9. Rendang Nangka dengan Bumbu Pekat
Rendang nangka berada di posisi kesembilan dengan nilai 3,0. Hidangan ini menggunakan nangka muda sebagai pengganti daging dalam racikan rendang. Nangka dimasak bersama santan, serai, lengkuas, bawang, kunyit, jahe, cabai, daun jeruk, serta rempah lainnya.
Nangka muda memiliki rasa awal yang netral sehingga mudah menyerap bumbu. Setelah dimasak lama, seratnya berubah lembut dan mudah terurai. Karakter tersebut membuat nangka mampu menahan bumbu pekat tanpa kehilangan bentuk sepenuhnya.
Proses memasaknya membutuhkan kesabaran. Santan dan bumbu harus terus dipanaskan sampai cairannya berkurang, minyak alami keluar, dan rempah melekat pada potongan nangka. Pengadukan dilakukan secara berkala agar bagian dasar tidak hangus.
Rendang nangka dapat disantap bersama nasi putih, ketupat, daun singkong, atau sambal hijau yang tidak memakai bahan hewani. Hidangan ini menawarkan rasa kaya rempah tanpa menjadikan daging sebagai pusat sajian.
10. Pepes Tahu Beraroma Daun Pisang
Pepes tahu menempati urutan kesepuluh dengan nilai 2,7. Sajian yang dikenal luas di Pulau Jawa ini dibuat dari tahu yang dihancurkan, dicampur bumbu, dibungkus daun pisang, kemudian dikukus sampai matang. Beberapa versi dipanggang sebentar setelah dikukus untuk menambahkan aroma bakar.
Bumbu pepes tahu dapat terdiri atas bawang merah, bawang putih, cabai, kemiri, kunyit, serai, daun jeruk, dan kemangi. Wortel, jamur, labu siam, atau daun bawang juga bisa ditambahkan untuk memberi warna dan tekstur. Daun pisang menjaga kelembapan tahu sekaligus menyumbangkan aroma alami selama proses pengukusan.
Tekstur pepes tahu cenderung lembut, tetapi bumbu yang meresap membuat rasanya tidak hambar. Hidangan ini cocok disandingkan dengan nasi hangat, sayur bening, lalapan, dan sambal. Proses pengukusan juga membuatnya tidak memerlukan banyak minyak.
Meski terlihat sepenuhnya berbahan tumbuhan, beberapa resep pepes tahu menggunakan telur sebagai pengikat atau terasi sebagai bumbu. Konsumen vegan perlu memilih versi tanpa kedua bahan tersebut. Pepes tahu yang dibuat dari tahu, sayuran, rempah, dan daun pisang tetap mampu menghasilkan rasa gurih, harum, serta ringan untuk disantap.
- Share









